Jangan Kalap! Ini 5 Tips Sehat Menikmati Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Melonjak
- 27-05-2026
Brebes, PING- Dalam rangka memperkuat kapasitas petani sekaligus mendukung optimalisasi pengendalian inflasi daerah, Kelompok Petani dan Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk melaksanakan Capacity Building dan Kunjungan Studi Tiru di Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri yang berlangsung di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada 26–28 September 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Ida Sobihatin, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), pendamping desa, serta Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Akad, bersama kelompok petani bawang merah Nganjuk.
Acara diawali dengan penyampaian materi oleh narasumber dari Brebes, daerah yang dikenal sebagai sentra bawang merah nasional. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai grafik produksi bawang merah di Indonesia, di mana periode Januari- April cenderung mengalami penurunan, sementara Mei- Agustus menjadi puncak produksi.
Baca Juga : Disperta Nganjuk Gelar Pelatihan Budidaya Tembakau, Solusi Atasi Gagal Panen Akibat Serangan Tikus
Materi kemudian berlanjut pada strategi manajemen stok untuk menjaga stabilitas harga. Ada dua pendekatan yang dijelaskan:
Stok Gudang: mencakup gudang konvensional (dengan penyusutan 30% per bulan), cold storage (penyusutan 5–7%), dan CAS (Control Atmosphere Storage) yang lebih modern dan efisien.
Stok Lapangan: melalui pengaturan pola tanam serta penanaman off season agar pasokan tetap terjaga sepanjang tahun.

Selain itu, disampaikan pula peluang industrialisasi bawang merah. Indonesia memiliki produksi berlimpah hingga 1,75 juta ton/tahun dengan tingkat konsumsi yang tinggi, mencapai 4,56 kg per kapita/tahun. Kondisi ini membuka peluang pengolahan bawang merah menjadi produk turunan bernilai tambah, sejalan dengan tren masyarakat modern yang lebih menyukai produk praktis dan instan.
Setelah sesi materi, rombongan petani Nganjuk melanjutkan kegiatan dengan melakukan kunjungan ke CV. Sudah Ada Brebes, milik Pak Alex, yang bekerja sama dengan Bank Indonesia. Di lokasi tersebut, peserta disambut dengan pemandangan stok bawang merah melimpah, para pekerja yang tengah menyortir, serta proses pengemasan bawang merah khas Brebes yang siap dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung kepada para petani Nganjuk tentang bagaimana tata kelola pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi bawang merah dilakukan secara profesional untuk mendukung rantai pasok yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Ida Sobihatin menegaskan pentingnya kegiatan studi tiru ini untuk menambah wawasan petani Nganjuk.

“Melalui studi tiru ini, kami berharap para petani mendapatkan ilmu dan pengalaman baru tentang budidaya, pengelolaan stok, hingga strategi pemasaran bawang merah. Nganjuk sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar harus terus berbenah agar bisa menjaga produktivitas sekaligus mendukung stabilitas harga,” ujarnya.
Baca Juga : Sambut HUT ke-80 RI, Dispertan Nganjuk Gelar Layanan Kesehatan Hewan Gratis
Ida juga menekankan perlunya regulasi yang tegas terkait pembatasan impor bawang merah. Hal ini penting agar harga bawang merah lokal tetap stabil, sehingga petani tidak dirugikan dan daya saing produk dalam negeri tetap terjaga.
Kegiatan capacity building dan studi tiru ini sekaligus menjadi bukti nyata sinergi antara petani, asosiasi, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan produksi dan distribusi bawang merah, diharapkan Kabupaten Nganjuk dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung bawang merah nasional, sekaligus berkontribusi dalam menjaga inflasi daerah agar tetap terkendali.