Atasi Stunting, Ketua TP PKK Nganjuk Luncurkan Program Ternak Ayam Berbasis Kelompok di Rejoso
- 09-06-2026
Nganjuk, PING— Sejarah berdirinya Kabupaten Nganjuk selalu melekat dengan peristiwa monumental penganugerahan tanah perdikan oleh Mpu Sindok pada abad ke-10. Dalam pusaran sejarah tersebut, kemenangan Kerajaan Medang sejatinya ditopang kuat oleh kolaborasi elemen rakyat dan kearifan tokoh lokal lereng Gunung Wilis.
Jika sosok Pu Anjuk Ladang (Sang Pamegat Mpu Anjuk Ladang) banyak dikenal sebagai pemimpin wilayah yang menggerakkan fisik perlawanan, maka sejarah juga mencatat satu sosok sentral lain yang menjadi pilar spiritual dari wilayah Ngetos. Tokoh tersebut adalah Pu Tajum.
Dua Sisi Perlawanan Melawan Pamalayu
Ketika Kerajaan Medang menghadapi invasi dahsyat dari Kerajaan Pamalayu asal Sumatera, Mpu Sindok terdesak hingga ke wilayah Jawa Timur. Di masa genting inilah perlawanan lokal bersinergi. Pu Anjuk Ladang tampil memobilisasi rakyatnya untuk berjuang di garis depan dan menjadi tameng hidup demi melindungi kedaulatan raja.
Namun, perjuangan fisik tersebut diimbangi dan disempurnakan oleh hadirnya Pu Tajum. Berdasarkan penelusuran sejarah yang beriringan dengan narasi Prasasti Anjuk Ladang, Pu Tajum adalah seorang Mahaguru yang sangat dihormati. Eksistensi beliau merujuk pada era klasik peradaban Hindu-Buddha, suatu masa di mana wilayah Ngetos dan sekitarnya tersohor sebagai pusat pendidikan atau kadiwalyaguruan.
Sebagai seorang tokoh spiritual dan pemuka intelektual, peran Pu Tajum sangatlah krusial. Beliau tidak hanya menjadi pengayom batin masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu tonggak pemikiran yang membantu pasukan Mpu Sindok menyusun kekuatan. Berkat paduan keberanian laskar Pu Anjuk Ladang dan bimbingan Pu Tajum, pasukan Pamalayu pada akhirnya berhasil dipukul mundur.
Saksi Kehormatan dalam Manusuk Sima
Atas jasa dan pengorbanan luar biasa dari masyarakat lereng Wilis, Mpu Sindok menetapkan wilayah tersebut sebagai Sima Swatantra (daerah bebas pajak) yang diberi nama Bumi Anjuk Ladang pada 10 April 937 Masehi.
Dalam momen sakral penetapan tersebut, penghormatan agung diberikan kepada Pu Tajum. Sang Mahaguru dari Ngetos itu diundang secara khusus oleh Mpu Sindok untuk menjadi saksi kehormatan dalam upacara Manusuk Sima. Kehadiran Pu Tajum dalam upacara tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan resmi dari kerajaan atas legitimasi intelektual dan spiritual masyarakat Ngetos.
Kini, lebih dari seribu tahun berlalu, kearifan Sang Mahaguru kembali digaungkan. Melalui perhelatan "Festival Pu Tajum" yang diinisiasi oleh Paguyuban Budaya Kecamatan Ngetos, masyarakat diajak merawat kembali ingatan kolektif tersebut.

Langkah pelestarian ini menjadi jembatan edukasi agar generasi penerus tak lupa bahwa kedaulatan Bumi Anjuk Ladang dibangun secara utuh: lewat tetesan keringat keberanian Pu Anjuk Ladang, dan disempurnakan oleh kedalaman spiritualitas Pu Tajum.
Dukungan Penuh Pemkab Nganjuk Melalui Festival Pu Tajum
Kini, lebih dari seribu tahun berlalu, kearifan Sang Mahaguru kembali digaungkan. Berangkat dari inisiatif Paguyuban Budaya Kecamatan Ngetos, masyarakat diajak merawat ingatan kolektif tersebut melalui perhelatan "Festival Pu Tajum" yang digelar pada Kamis (23/4/2026).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk memberikan dukungan penuh dan apresiasi yang luar biasa terhadap upaya pelestarian sejarah ini. Kehadiran Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, mewakili Bupati Nganjuk dalam puncak acara tersebut menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah daerah. Beliau sangat mengapresiasi pelibatan pelajar dari tingkat TK hingga SMP serta pameran pusaka keris sebagai wujud edukasi sejarah yang nyata bagi generasi penerus.