#

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta: Doa Terbaik Biksu Thudong untuk Masyarakat Nganjuk

Nganjuk, PING – Suasana penuh keteduhan, kesakralan, dan kebersamaan menyelimuti Kabupaten Nganjuk pada Rabu (21/5/2026). Rombongan biksu peserta Thudong 2026 resmi singgah di Bumi Anjuk Ladang dalam rangkaian perjalanan spiritual mereka menuju Candi Borobudur.

Kehadiran para biksu ini bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan, melainkan menyebarkan misi Indonesia Walk for Peace—sebuah pesan kuat tentang perdamaian, kesederhanaan, harmoni, dan persaudaraan sejati untuk bangsa Indonesia.

Rombongan Thudong tahun ini membawa dimensi internasional yang kental, diikuti oleh para biksu dari empat negara, yaitu Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia. Mereka berjalan kaki melintasi berbagai provinsi sejak memulai titik keberangkatan dari Singaraja, Bali.

Saat memasuki wilayah perkotaan Nganjuk, antusiasme luar biasa ditunjukkan oleh elemen masyarakat:

  • Pemerintah Daerah beserta jajaran menyambut secara formal.
  • Tokoh Lintas Agama dari berbagai keyakinan hadir memberikan penghormatan dan ruang dialog yang hangat.
  • Para Pelajar dan Masyarakat Umum berjejer rapi di sepanjang jalan, memberikan lambaian salam, senyuman, hingga dukungan logistik.

Nuansa toleransi yang begitu kental ini diakui para biksu menjadi salah satu potret keberagaman paling indah dan membekas di hati mereka selama melintasi Pulau Jawa.

Perwakilan rombongan biksu, Bhante Jams, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya atas keramahan masyarakat Nganjuk. Ia menilai, ketulusan warga Nganjuk adalah bukti nyata bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat.

“Kami merasakan kehangatan yang luar biasa di Nganjuk. Semua umat beragama menyambut kami dengan penuh ketulusan tanpa sekat. Sambutan ini menjadi energi spiritual yang luar biasa bagi kami untuk melanjutkan sisa perjalanan,” ungkap Bhante Jams khidmat.

Sebagai bentuk restu dan rasa terima kasih yang mendalam atas ketulusan hati warga, Bhante Jams bersama rombongan biksu memanjatkan doa khusus yang ditujukan untuk Indonesia, khususnya bagi seluruh masyarakat Kabupaten Nganjuk.

Dalam bait-bait doa yang dipanjatkan, mereka memohonkan:

  • Persatuan Bangsa: Agar Indonesia senantiasa dijaga dalam kedamaian, persatuan, dan dijauhkan dari segala bentuk perpecahan.
  • Kesejahteraan Warga: Agar masyarakat Nganjuk selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, umur panjang, serta kelancaran dan keberkahan dalam setiap usaha maupun pekerjaan yang ditekuni.
  • Kekuatan bagi yang Sakit: Doa khusus juga dialamatkan bagi warga yang sedang mengalami kesulitan, tertimpa musibah, atau sedang sakit agar segera mendapat pertolongan dan kesembuhan.

Di akhir prosesi, para biksu juga menyelipkan pesan moral mendalam. Mereka mengajak seluruh warga untuk terus konsisten menanamkan nilai kebajikan, menghormati orang tua serta guru, dan merawat kerukunan di tengah perbedaan.

Lantunan doa tersebut ditutup dengan kalimat universal penuh makna:

"Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta" (Semoga semua makhluk hidup berbahagia).

Perjalanan spiritual Thudong 2026 ini dijadwalkan akan mencapai titik akhir di Candi Borobudur, Magelang, pada 28 Mei 2026 mendatang bertepatan dengan momentum perayaan Hari Raya Waisak.

Meski persinggahan di Kabupaten Nganjuk terbilang singkat, momentum ini telah meninggalkan jejak spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat akan pentingnya menjaga api toleransi dan merawat persaudaraan antarsesama manusia.