#

Menggema di GOR Bung Karno, Kang Marhaen Ajak Warga Nganjuk Rawat Persatuan di Hari Lahir Pancasila

Nganjuk, PING – Pemerintah Kabupaten Nganjuk menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di GOR Bung Karno Kabupaten Nganjuk, Senin (1/6/2026). Upacara berlangsung khidmat dengan diikuti jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, TNI, Polri, ASN, pelajar, serta berbagai unsur masyarakat.

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai perekat persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang dimiliki Indonesia.

Menurut Kang Marhaen sapaan akrabnya, kekuatan Indonesia hingga saat ini tidak lepas dari peran Pancasila sebagai dasar negara sekaligus panduan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia kemudian mengutip sebuah kisah yang pernah disampaikan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, saat berdialog dengan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada tahun 1961.

Kala itu, Bung Karno menyatakan tidak khawatir terhadap masa depan Indonesia karena telah mewariskan Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Sebaliknya, Presiden Tito mengaku cemas karena negaranya hanya disatukan oleh kekuatan militer tanpa memiliki ideologi yang mampu mempersatukan seluruh rakyatnya.

“Sejarah akhirnya membuktikan. Yugoslavia pecah menjadi beberapa negara, sedangkan Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang besar meski terdiri dari ribuan pulau dan ratusan kelompok masyarakat yang berbeda,” ujar Bupati Marhaen.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Marhaen juga mengajak peserta upacara untuk mengingat kembali perjalanan panjang lahirnya Pancasila. Mulai dari penyampaian gagasan dasar negara oleh Mohammad Yamin pada 29 Mei 1945, pemikiran Prof. Dr. Soepomo pada 31 Mei 1945, hingga pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 yang memperkenalkan istilah Pancasila sebagai dasar negara. Selanjutnya, pada 18 Agustus 1945, Pancasila resmi ditetapkan bersamaan dengan pengesahan Undang-Undang Dasar 1945.

Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau simbol semata. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sikap saling menghormati, menjunjung keadilan, hingga menjaga persaudaraan antarsesama.

Rangkaian upacara juga diisi dengan pembacaan doa untuk bangsa dan negara. Suasana hening menyelimuti lapangan upacara saat doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Melalui doa tersebut, seluruh peserta memohon agar bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan, fitnah, permusuhan, serta segala bentuk ketidakadilan. Doa juga dipanjatkan bagi para pahlawan dan pendiri bangsa yang telah meletakkan fondasi kehidupan bernegara melalui lahirnya Pancasila.

Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 di Kabupaten Nganjuk ditutup dengan semangat kebersamaan yang tercermin dari pekik “Salam Pancasila!” yang menggema di akhir upacara. Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa Pancasila tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga persatuan dan membangun Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera. (AI/CS)