Jamasan dan Bedol Pusaka Warnai Peringatan Boyong Hamangun Projo di Nganjuk
- 06-06-2026
Nganjuk, PING – Kemeriahan luar biasa menyelimuti Kabupaten Nganjuk pada Sabtu, 6 Juni 2026. Sepanjang rute kirab budaya dari Alun-Alun Berbek hingga Pendopo Kabupaten Nganjuk mendadak berubah menjadi lautan manusia. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru daerah tumpah ruah dan berjejer rapat di sepanjang jalan demi menyaksikan langsung gelaran tahunan "Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo Tahun 2026".
Sejak siang hari sebelum acara dimulai, antusiasme warga sudah terlihat sangat tinggi. Kehadiran iring-iringan kereta kencana yang megah serta barisan peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa sukses memukau setiap pasang mata penonton. Momentum ini sekaligus menjadi hiburan dan pesta rakyat yang paling dinantikan oleh seluruh elemen masyarakat Bumi Anjuk Ladang.

Puncak keriuhan dan antusiasme warga semakin memuncak saat prosesi kirab memasuki area Jalan Basuki Rahmat dan Pendopo Kabupaten KRT Sosrokeosoemo. Setelah ritual sakral penancapan pusaka selesai dilakukan oleh Bupati Marhaen bersama jajaran Forkopimda, masyarakat disuguhi pemandangan indahnya gunungan hasil kreasi dari para kecamatan se Kabupaten Nganjuk.
Gunungan besar yang disusun dari beragam sayuran dan buah-buahan ini menjadi magnet utama bagi warga. Begitu doa selamatan bersama atas hidangan Buceng Kuat dan Jenang Sengkolo selesai dikumandangkan, suasana khidmat langsung berubah menjadi riuh penuh sukacita. Masyarakat dengan antusias saling berebut (morak) gunungan hasil bumi tersebut.

Tradisi berebut gunungan ini bukan sekadar mengejar hasil tani secara fisik, melainkan simbol rasa syukur bersama masyarakat atas melimpahnya sektor pertanian di Nganjuk. Kegembiraan warga tahun ini terasa kian lengkap di tengah tren positif sektor pertanian, salah satunya ditandai dengan stabilitas harga komoditas unggulan seperti bawang merah yang saat ini sukses menyentuh Rp. 40.000,- per kilogram di tingkat petani.
Dalam sambutannya di tengah kepungan antusiasme warga, Bupati Marhaen menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kekompakan masyarakat. Beliau menekankan bahwa kehadiran ribuan warga ini adalah bukti nyata bahwa roh Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) dan semangat gotong royong masih hidup subur di hati masyarakat Nganjuk.

"Semangat Hambangun Projo ini adalah cerminan dari sinergi kebersamaan kita. Membangun Nganjuk tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat secara utuh," tegas Bupati Marhaen.
Melalui kemeriahan dan tingginya partisipasi publik pada tahun ini, event Boyong dan Sedekah Bumi tidak hanya sukses menjadi sarana pelestarian sejarah perpindahan ibu kota Nganjuk sejak 1880 silam, tetapi juga berhasil menjadi panggung persatuan yang mempererat tali silaturahmi seluruh warga demi mendukung visi Nganjuk Melesat.