Dinas Pertanian Nganjuk Intensifkan Pemeriksaan Hewan Kurban Jelang Idul Adha 1447 H
- 15-05-2026
Nganjuk, PING-Bupati Nganjuk, Kang Marhaen menghadiri Panen Raya Kedelai bersama Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Kamis (14/5/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui Komando Daerah TNI AL (Kodaeral) V tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI Letjen TNI Tri Budi Utomo, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, Sekda Provinsi Jawa Timur, Wakil Bupati Nganjuk, Sekda Nganjuk, Forkopimda Nganjuk, serta pejabat dari Kementerian, TNI, dan Polri.
Panen raya yang dilaksanakan di lahan seluas 100 hektare tersebut menjadi bagian dari total pengembangan kedelai seluas 400 hektare di Kecamatan Wilangan. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat melalui kolaborasi lintas sektor.

Program pengembangan kedelai di Kabupaten Nganjuk bertujuan meningkatkan produksi kedelai nasional, memperluas areal tanam, mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian melalui pola tanam yang lebih produktif, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Dalam sambutannya, Bupati Nganjuk Kang Marhaen, menyampaikan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Nganjuk mengalami peningkatan yang signifikan, khususnya pada komoditas kedelai. Menurutnya, penggunaan benih unggul varietas Grobogan berhasil meningkatkan produktivitas kedelai dari sebelumnya sekitar 2,4 ton per hektare menjadi 3,5 hingga 4 ton per hektare.
“Sekarang petani Nganjuk semakin bergairah menanam kedelai. Sebelumnya kurang begitu semangat karena hasilnya kurang bagus . Alhamdulillah, dengan dukungan benih unggul Grobogan, hasil panen meningkat cukup signifikan,” ujar Kang Marhaen.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat dan TNI dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani. Saat ini harga gabah di Kabupaten Nganjuk berada pada kisaran Rp7.300 hingga Rp7.400 per kilogram, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
“Kami merasakan betul kehadiran pemerintah pusat bersama TNI dalam membantu petani di daerah. Dukungan ini sangat berarti bagi kesejahteraan petani dan keberlangsungan sektor pertanian di Kabupaten Nganjuk,” tambahnya.
Lebih lanjut, Kang Marhaen memaparkan potensi besar sektor pertanian Kabupaten Nganjuk. Kabupaten Nganjuk memiliki luas lahan sawah mencapai 46.900 hektare dan menjadi salah satu sentra bawang merah dengan produktivitas mencapai 11–12 ton per hektare. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga menyiapkan lahan kedelai seluas 3.200 hektare dengan varietas unggulan lokal seperti Wilis dan Grobogan yang dinilai memiliki kualitas baik dan produktivitas tinggi.
Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi pertanian juga terus dikembangkan guna meningkatkan efisiensi dan hasil produksi. Hal tersebut sekaligus mendorong transformasi petani menjadi lebih modern dan berorientasi bisnis atau “petani pengusaha”.
Kang Marhaen menegaskan kesiapan Pemerintah Kabupaten Nganjuk dalam mendukung dan melaksanakan berbagai program pemerintah pusat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.

Sementara itu, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kedelai merupakan komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama tahu, tempe, hingga berbagai produk olahan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Menurutnya, Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan impor dan mulai membangun kemandirian produksi dalam negeri.
“Beras sudah swasembada, cabai swasembada, jagung, daging ayam kita ekspor, telur kita ekspor. Kalau kedelai selesai, di sinilah kedaulatan pangan republik tercapai,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran menyebut kebutuhan kedelai nasional saat ini masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.
“Kalau kedelai, itu belum. Jauh. Ini kita impor 2,4 juta ton dari kebutuhan 2,6 sampai 2,7 juta ton. Nah ini yang paling jauh,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Namun sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton masih dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.
Rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional tercatat mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.
“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal lahan kita luas, petani kita mampu, dan teknologinya tersedia. Karena itu kita ingin kebangkitan kedelai nasional dimulai dari daerah-daerah produktif seperti Nganjuk,” tegasnya.
Menurut Mentan Amran, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah paling potensial dalam mendukung peningkatan produksi kedelai nasional. Dalam dua tahun terakhir, produksi kedelai Jawa Timur rata-rata mencapai 54 ribu ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektare dan produktivitas 1,7 ton per hektare.
Kabupaten Nganjuk sendiri menjadi salah satu sentra penting produksi kedelai di Jawa Timur dengan rata-rata produksi mencapai 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare dan produktivitas sebesar 2,2 ton per hektare. Produksi tersebut telah mampu memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat.
Menteri Pertanian juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan pertanian di Kabupaten Nganjuk, termasuk dalam penyediaan infrastruktur irigasi dan pendampingan bagi petani.
“Masalah irigasi nanti tolong disiapkan, anggarannya ada. Kami siap mendukung pengembangan pertanian di Nganjuk,” tegasnya.
Panen Raya Kedelai di Kecamatan Wilangan ini diharapkan menjadi momentum penguatan sektor pertanian Kabupaten Nganjuk sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional melalui peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.(Zk/Cs/Ys)