#

Tengah Geopolitik Dunia Bergolak, Disporabudpar Nganjuk Pacu Pemuda Wujudkan Swasembada Pangan

Nganjuk, PING – Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) menggelar Sarasehan Pemuda Kabupaten Nganjuk Tahun 2026. Mengusung tema "Pranoto Mongso sebagai Mitigasi Risiko Iklim: Strategi Pemuda Mewujudkan Swasembada Pangan di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia", acara ini berlangsung khidmat di Gedung Balai Budaya Pu Sindok pada Selasa (7/7/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi generasi muda agar lebih peduli terhadap ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan ilmu titen atau kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam (Pranoto Mongso).

Dalam sambutannya, Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, menekankan pentingnya membangun pemuda yang berbudaya serta memiliki ketangguhan di sektor pangan dan energi. Menurutnya, situasi dunia saat ini sedang tidak menentu akibat konflik geopolitik global—seperti ketegangan di Timur Tengah—yang berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas penting, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Di tengah hiruk-pikuk dan ketidakpastian global, kita perlu menentramkan diri dan berstrategi. Negara itu akan kuat kalau salah satunya memiliki swasembada pangan yang tinggi. Di dalam penuturan logistik militer, logistik adalah separuh dari kemenangan perang. Jika ketahanan pangan dan energi kita kuat, digoyang apa pun bangsa ini akan tetap kokoh," tegas Gunawan.

Lebih lanjut, Gunawan yang juga memiliki latar belakang pendidikan militer ini menjelaskan bahwa Kabupaten Nganjuk memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Walaupun saat ini tengah berkembang Kawasan Industri Nganjuk (KING), keberadaan Lahan Baku Sawah (LBS) harus tetap dipertahankan dan dilestarikan demi menjaga kestabilan pangan nasional.

Melalui sarasehan ini, Disporabudpar ingin menyelaraskan langkah para pemuda, akademisi, serta instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memahami mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Pranoto Mongso dinilai sangat relevan untuk memprediksi perubahan cuaca, memitigasi bencana angin puting beliung, hingga mengatur pola tanam yang tepat.

Gunawan juga menyoroti dampak lingkungan dari program kehutanan sosial dan agroforestri (KHDPK) yang jika dilakukan tanpa perhitungan matang, berpotensi memicu run-off (aliran permukaan) material pembawa bencana saat musim hujan.

"Kita harus menyelamatkan lingkungan agar ekosistem tetap lestari. Siapa yang bisa? Ya kita, para pemuda sebagai pelaku utamanya. Jika Kabupaten Nganjuk memiliki ketahanan pangan dan energi yang bagus, kita punya potensi besar untuk menopang ketahanan nasional," imbuhnya.

Di hadapan para peserta, Gunawan juga mengakui tantangan yang dihadapi Disporabudpar dalam mengakomodasi kegiatan kepemudaan, terutama terkait keterbatasan anggaran fiskal daerah. Mengingat Disporabudpar mengampu cakupan urusan yang sangat luas—mulai dari kepemudaan, olahraga, kebudayaan, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif—pihaknya berkomitmen untuk terus memperjuangkan peningkatan anggaran pembinaan ke depan.

"Meskipun kemampuan fiskal daerah terbatas, kita harus tetap bersemangat dengan kondisi yang ada. Saya sangat berterima kasih kepada generasi muda, baik senior maupun junior, yang hadir hari ini. Mari kita bawa pulang ilmu ini untuk diimplementasikan bersama," pungkas Gunawan menutup sambutannya.

Acara sarasehan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari BPBD Kabupaten Nganjuk, tokoh pemuda, mahasiswa, serta pegiat lingkungan lokal yang siap berkolaborasi mengawal swasembada pangan di Bumi Anjuk Ladang.