Tak Perlu Berdesakan, Warga Bisa Pantau Pawai HUT RI Nganjuk Lewat CCTV Online
- 11-08-2026
Nganjuk, PING – Kepanikan sering menjadi reaksi pertama orang tua ketika melihat anak mengalami kejang. Padahal, dalam kondisi tersebut ketenangan justru sangat dibutuhkan agar orang tua dapat memberikan pertolongan yang tepat dan tidak melakukan tindakan yang justru membahayakan anak.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Interaktif 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) bersama RSUD Kertosono, Senin (10/8/2026). Mengangkat tema “Solusi Tenang Ketika Anak Kejang”, dialog menghadirkan dr. Farah Haaniya Nuriswarin dan dr. Dunia Ahmada Nur Alif, keduanya merupakan dokter umum.
Dalam dialog, dr. Farah menjelaskan bahwa mayoritas kejang demam pada anak tidak berbahaya. Karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua ketika anak mengalami kejang adalah berusaha tidak panik. Kepanikan justru dapat membuat orang tua melakukan tindakan yang keliru dan berpotensi memperburuk kondisi anak.
“Mayoritas kejang demam itu tidak berbahaya. Jadi para orang tua yang melihat anaknya kejang jangan panik duluan,” jelas dr. Farah.
dr. Dunia menjelaskan, kejang demam merupakan kejang yang didahului oleh demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celsius. Berdasarkan penjelasan dalam dialog, kejang demam paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.
Namun, tidak semua kejang yang dialami anak otomatis merupakan kejang demam. Apabila kejang terjadi tanpa didahului demam, perlu dicari kemungkinan penyebab lain, seperti epilepsi atau gangguan pada otak. Untuk anak berusia di bawah 6 bulan atau di atas 5 tahun, dokter juga perlu menyingkirkan kemungkinan diagnosis lainnya melalui pemeriksaan yang sesuai.
Keduanya juga menjelaskan perbedaan antara kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana umumnya berhenti sendiri dalam waktu singkat dan tidak berulang dalam 24 jam. Sementara kejang demam kompleks dapat berlangsung lebih lama, berulang dalam 24 jam, atau terjadi pada salah satu sisi tubuh.
Salah satu hal penting yang ditekankan dalam dialog adalah masih adanya anggapan di masyarakat bahwa anak yang sedang kejang perlu diberi sendok atau benda lain di dalam mulut agar tidak menggigit lidah.
dr. Farah menegaskan bahwa tindakan tersebut justru berbahaya. Memaksa membuka mulut anak ketika tubuh sedang mengalami kontraksi dapat menyebabkan cedera. Selain itu, memasukkan benda ke dalam mulut juga dapat menyebabkan anak tersedak atau mengalami aspirasi karena saat kejang anak tidak dapat mengontrol proses menelan dengan baik.
“Jangan sampai karena kejang demam yang umumnya tidak berbahaya malah menjadi berbahaya karena orang tua memasukkan sesuatu dalam mulut,” jelas dr. Farah.
Selain itu, orang tua juga tidak dianjurkan menahan gerakan tubuh anak secara paksa karena dapat menyebabkan cedera, termasuk risiko patah tulang maupun dislokasi.
Dr. Dunia menyampaikan, ketika anak mengalami kejang, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk menjaga keselamatannya. Salah satunya dengan memiringkan tubuh anak ke sisi kiri atau kanan.
Posisi tersebut membantu menjaga jalan napas, terutama apabila anak mengalami muntah atau terdapat cairan di dalam mulut. Orang tua juga perlu menjauhkan benda-benda berbahaya dari sekitar anak agar tidak terjadi cedera selama kejang berlangsung.
Selain mengamankan posisi anak, orang tua juga dianjurkan memperhatikan dan mencatat durasi kejang. Jika memungkinkan, kondisi kejang dapat direkam menggunakan telepon seluler untuk membantu dokter mengetahui bagaimana kejang dimulai, bagian tubuh mana yang mengalami kejang, berapa lama berlangsung, serta kondisi anak setelah kejang. Informasi tersebut dapat membantu dokter dalam melakukan penilaian awal.
Durasi kejang menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Dalam dialog, dr. Farah mengingatkan bahwa apabila kejang berlangsung lebih dari 5 menit, orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk memastikan penyebab kejang sekaligus menyingkirkan kemungkinan kondisi lain. Terlebih apabila kejang berulang atau anak mengalami gangguan kesadaran setelah kejang.
Dr. Dunia juga menjelaskan, apabila setelah kejang anak masih sangat lemas atau sulit dibangunkan, kondisi tersebut merupakan salah satu tanda yang perlu mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Melalui dialog tersebut, RSUD Kertosono menekankan bahwa pengetahuan orang tua mengenai kejang pada anak sangat penting. Dalam kondisi darurat, pemahaman mengenai pertolongan pertama dapat membantu orang tua tetap tenang dan mengambil keputusan yang tepat.
Di akhir dialog, disampaikan kembali beberapa hal penting yang perlu diingat ketika anak mengalami kejang, yakni jangan panik, amankan anak dari benda berbahaya, posisikan tubuh dengan aman termasuk memiringkannya sesuai kondisi, jangan menahan gerakan kejang, jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut, serta perhatikan berapa lama kejang berlangsung.
Melalui edukasi kesehatan di RSAL FM tersebut, RSUD Kertosono berharap para orang tua semakin memahami cara menghadapi kejang pada anak dengan tepat. Dengan pengetahuan yang memadai, orang tua diharapkan tidak mudah panik dan dapat memberikan pertolongan awal yang aman sembari segera mencari bantuan medis apabila ditemukan tanda-tanda kegawatan.