BPBD Nganjuk Bantu Evakuasi Jenazah dari Sungai Brantas Kertosono
- 16-09-2026
Nganjuk, PING- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk berkolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mewujudkan inovasi pertanian berkelanjutan di Kota Bayu. Keberhasilan ini ditandai dengan gelaran Panen Raya dan Field Day Demplot (Demonstration Plot) Bawang Merah di Dusun Bulurejo, Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, pada Rabu (12/8/2026).
Kegiatan panen raya ini dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, bersama Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) STP IPB, Handian Purwawangsa. Turut hadir mendampingi, Asisten Bidang Inkubasi Bisnis LPA2I IPB, jajaran Kepala OPD terkait, Camat Rejoso, Kepala Desa Mojorembun, serta 70 Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kecamatan Rejoso.
Dalam arahannya, Bupati Nganjuk yang akrab disapa Kang Marhaen memberikan apresiasi tinggi atas pendampingan keilmuan dari IPB yang diterapkan langsung di lahan petani Nganjuk. Beliau menyoroti efektivitas agens hayati Trichoderma Planteria yang sukses menekan penggunaan pupuk kimia hingga 40 persen, sekaligus meningkatkan produktivitas dari rata-rata 7 ton menjadi 10 ton per hektare.

"Nganjuk ini adalah sentra bawang merah yang harus kita jaga kualitas dan kesuburan tanahnya. Dengan sentuhan ilmu dari IPB, lahan petani kita menjadi lebih subur. Selain fokus di produksi, pemerintah daerah juga hadir melindungi petani. Kita siapkan skema 'tunda jual' yang didukung oleh Koperasi dan BPR Anjuk Ladang agar petani tidak merugi saat harga anjlok, serta menerjunkan Satgas untuk menindak tegas importir ilegal yang merusak harga pasar," tegas Kang Marhaen.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala LPA2I STP IPB, Dr. Handian Purwawangsa, menjelaskan bahwa keberhasilan demplot ini adalah wujud nyata hilirisasi inovasi kampus ke tengah masyarakat. Program ini didukung melalui skema inkubasi bisnis Prime Step, di mana inovasi Trichoderma sp. ini dikembangkan langsung oleh startup binaan IPB, Planteria, yang dipimpin oleh pemuda asli Mojorembun.
"Melalui inovasi ini, kita bisa mem-branding bawang merah Mojorembun sebagai produk premium dengan keunggulan residu bahan kimia yang sangat rendah. Otomatis, ini akan meningkatkan nilai jualnya di pasar modern," jelas Dr. Handian.

Selain inovasi budidaya bawang merah, kedua tokoh tersebut juga secara kompak mendorong para petani untuk mulai menerapkan sistem rotasi (pergiliran) tanaman dengan komoditas kacang kedelai edamame. Langkah ini dinilai sangat penting untuk memutus siklus penyakit tular tanah dan mengembalikan unsur hara. Dr. Handian bahkan menegaskan bahwa IPB University siap membantu memberikan akses benih unggul edamame dan memfasilitasi penyerapan hasil panennya untuk supply ke berbagai pasar modern.
Ke depan, Pemkab Nganjuk berkomitmen membuka ruang fasilitasi pendanaan riset aplikatif bagi perguruan tinggi untuk mengurai berbagai permasalahan spesifik di tingkat daerah. Sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, dan petani ini diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di Kabupaten Nganjuk secara berkelanjutan.