#

Bawakan Seminar Parenting Berbasis Neuroscience, dr. Aisyah Dahlan Bagikan Rahasia "Soft Touch"

Nganjuk, PING – Kehadiran praktisi parenting dan neuroscience nasional, dr. Aisyah Dahlan, di Pendopo Kabupaten Nganjuk membawa warna baru bagi dunia pendidikan di Bumi Anjuk Ladang. Dalam seminar parenting modern ini, dr. Aisyah secara khusus mengupas tuntas rahasia mendidik anak berdasarkan cara kerja otak dengan pembawaan yang hangat, jenaka, dan penuh kedekatan.

Mengawali seminarnya, dr. Aisyah mengungkapkan rasa syukur mendalam karena akhirnya bisa berkunjung langsung ke Kabupaten Nganjuk setelah sebelumnya pada masa pandemi hanya bisa menyapa warga secara virtual. Di hadapan Bupati Nganjuk Kang Marhaen Djumadi, Ketua TP PKK Ibu Wahyuni Marhaen, jajaran Forkopimda, serta ratusan guru BK dan wali murid, ia membuka sesi dengan meluruskan kesalahpahaman nama suaminya yang kerap dikira bernama "Pak Dahlan".

"Banyak sekali yang mengira suami saya bernama Pak Dahlan. Nama suami saya sebenarnya adalah Dr. Prianto Sismadi," ujarnya sembari membagikan foto nostalgia pernikahan mereka di Universitas Hasanuddin Makassar 34 tahun yang lalu.

Suasana pendopo pun dipenuhi tawa ketika dr. Aisyah memperkenalkan kelima anaknya: Lanang, Prio, Kakung, Jaler, dan si bungsu perempuan bernama Ragil, serta stok nama candaan "Siti Meningwati" (metu maning) jika ia memiliki anak perempuan lagi.

Memasuki materi sains populer, lulusan kedokteran ini menjelaskan bahwa setiap manusia dianugerahi sekitar 100 miliar sel otak (neuron) yang bekerja layaknya satu unit komputer canggih. Anak-anak yang lahir di era digital (tahun 2000-an ke atas) dibekali otak yang mampu mengakses data dengan sangat cepat.

Ia membandingkan perkembangan anak masa kini dengan pengalaman masa lalu generasi tahun 50-an hingga 70-an. "Zaman dulu, kalau televisi atau radio kita rusak, cukup dipukul langsung benar kembali. Namun, teknologi sekarang menggunakan pendekatan soft touch (sentuhan lembut). Sama halnya dengan anak-anak zaman sekarang, mereka tidak bisa lagi dididik dengan kekerasan fisik, melainkan harus dengan pola asuh soft touch penuh kelembutan," jelasnya.

dr. Aisyah menjelaskan bahwa informasi yang masuk ke otak anak akan membentuk sambungan antar-neuron melalui zat perekat bernama neurotransmitter. Kualitas zat perekat ini sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu Nutrisi, Situasi, dan Emosi.

Dalam hal nutrisi, ia secara khusus memuji kelezatan pecel Nganjuk sebagai menu sarapan yang bergizi tinggi. Ia menekankan pentingnya memastikan anak berangkat sekolah dalam kondisi kenyang, cukup tidur, dan sehat. Sementara dari segi emosi, dr. Aisyah menyarankan agar guru di sekolah mencairkan emosi negatif anak terlebih dahulu melalui kegiatan kreatif sebelum masuk ke materi pelajaran.

"Jika anak datang dalam kondisi kesal atau sedih, sekolah bisa menghiburnya dulu melalui tadarus bersama, bernyanyi, atau bermain musik sederhana dengan memukul kaleng menggunakan sumpit kayu. Gerakan fisik dan irama ini terbukti sangat bagus menaikkan emosi gembira anak di otak mereka," tambahnya.

Sesi yang paling menarik perhatian audiens adalah penjelasan dr. Aisyah mengenai perbedaan anatomi otak anak. Anak perempuan terlahir dengan sambungan belahan otak kiri dan kanan yang seimbang sejak kecil, membuat mereka lebih cepat pandai berbicara dan peka terhadap detail keselarasan warna.

Sebaliknya, pada anak laki-laki, belahan otak kanan (imajinasi, bermain, rileks, teknologi) berkembang terlebih dahulu. Belahan kiri dan kanannya baru akan seimbang setelah mereka melewati usia 18 tahun.

"Sangat wajar jika anak laki-laki usia dini sangat aktif bergerak, lari-larian, dan suka berimajinasi meniru pahlawan super setelah menonton TV. Itulah mengapa, untuk menyelamatkan perkembangan mental anak laki-laki dari kurikulum sekolah modern yang sangat padat, idealnya mereka baru mulai masuk sekolah dasar di usia 7 tahun ke atas," terang dr. Aisyah.

Melalui seminar interaktif ini, dr. Aisyah Dahlan berharap para guru dan orang tua di Nganjuk terus mengulang ilmu pengasuhan positif agar tercipta hubungan keluarga yang lebih sehat, di mana setiap anak didengar, dipahami, dan diterima sesuai keunikan potensi mereka.