#

Bekali Ratusan Kader SIBS, dr. Widhi Nastiti Bedah Kunci Pola Asuh 6 Bulan Pertama Kehidupan

Nganjuk, PING – Enam bulan pertama kehidupan menjadi fase krusial bagi tumbuh kembang bayi. Pada periode ini, pemenuhan nutrisi, kasih sayang, stimulasi, perlindungan, serta pemantauan kesehatan harus menjadi perhatian utama orang tua dan keluarga.

Hal tersebut disampaikan dr. Widhi Nastiti Trihandy, Ketua Bidang I TP PKK Kabupaten Nganjuk, saat menjadi narasumber dalam kegiatan evaluasi pendampingan kader SIBS (Sambang Ibu Bayi Sehat) yang digelar di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Rabu (9/9/2026).

Menurut dr. Widhi, pola asuh sejak bayi lahir sangat menentukan proses tumbuh kembang anak. Karena itu, selama usia 0–6 bulan, bayi harus mendapatkan ASI eksklusif sebagai sumber nutrisi utama. Pemberian air putih, pisang, bubur, maupun makanan dan minuman lain tidak diperlukan, kecuali terdapat indikasi medis dari tenaga kesehatan.

“Yang paling penting pada usia 0 sampai 6 bulan adalah nutrisi, yaitu ASI. ASI merupakan satu-satunya nutrisi yang dibutuhkan bayi selama enam bulan pertama, kecuali ada obat atau kebutuhan medis tertentu sesuai indikasi tenaga kesehatan,” jelasnya.

Ia juga meminta kader SIBS memberikan dukungan kepada ibu yang menghadapi kendala menyusui. Menurutnya, ketika produksi ASI dirasa belum mencukupi, ibu tidak boleh langsung menyerah. Proses menyusui secara rutin justru menjadi bagian penting dalam merangsang produksi ASI. Jika terdapat masalah, ibu perlu diarahkan untuk berkonsultasi dengan bidan, dokter atau tenaga kesehatan.

Selain pemenuhan nutrisi, dr. Widhi menekankan pentingnya pengasuhan responsif. Bayi yang belum dapat berbicara sebenarnya sudah mampu berkomunikasi melalui tangisan, tatapan, gerakan tangan dan kaki, mencari puting, maupun perubahan aktivitas. Respons orang tua melalui sentuhan, pelukan, kontak mata, senyuman, berbicara dan bernyanyi dapat membantu membangun rasa aman sekaligus mendukung perkembangan anak.

“Bayi membutuhkan pengasuh yang aman dan konsisten. Respons yang hangat seperti menggendong, memeluk, menatap mata dan berbicara dengan lembut sangat penting. Yang harus dihindari adalah membentak, mengguncang bayi maupun bentuk kekerasan lainnya,” tuturnya.

dr. Widhi juga mengingatkan keluarga untuk memperhatikan keamanan bayi, termasuk saat tidur. Bayi sebaiknya tidur dalam posisi terlentang di permukaan yang rata dan kokoh, serta dijauhkan dari bantal, guling, selimut tebal, boneka maupun benda lain yang dapat mengganggu pernapasan. Kebersihan tangan, perawatan tali pusat, serta lingkungan rumah yang sehat juga perlu diperhatikan.

Perlindungan dari paparan asap rokok turut menjadi perhatian. Ia meminta anggota keluarga yang merokok untuk tidak merokok di sekitar bayi. Setelah merokok di luar rumah, perokok dianjurkan mengganti pakaian dan mencuci tangan sebelum menyentuh bayi agar paparan residu rokok dapat diminimalkan.

Selanjutnya, kader SIBS didorong aktif memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi melalui Posyandu maupun Puskesmas. Berat badan, panjang badan, kemampuan motorik, komunikasi, serta interaksi sosial perlu dipantau secara berkala. Menurut dr. Widhi, pemantauan rutin memungkinkan masalah pertumbuhan maupun perkembangan diketahui dan ditangani lebih awal.

“Kalau ada keraguan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak, jangan menunggu terlalu lama. Konsultasikan kepada bidan, dokter atau Puskesmas,” ujarnya.

Ia menegaskan kader bukan pengganti tenaga kesehatan. Peran kader SIBS adalah mengamati, mencatat, mengedukasi, mendampingi keluarga, serta membantu merujuk apabila ditemukan masalah. Kader juga perlu memastikan tindak lanjut ketika keluarga telah diarahkan mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Di akhir penyampaiannya, dr. Widhi mengingatkan kader untuk mengenali tanda bahaya pada bayi, seperti sesak napas, tidak mau menyusu, kejang, lemas atau sulit dibangunkan, muntah berulang, tanda dehidrasi, serta tali pusat yang merah, bengkak, bernanah atau berbau. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh kader SIBS yang terus hadir mendampingi keluarga di desa dan kelurahan.

“Mungkin bagi kita satu kunjungan hanya beberapa menit. Namun bagi seorang ibu yang sedang belajar menjadi ibu, kehadiran kita bisa menjadi kekuatan yang sangat berarti,” pungkasnya.