#

Strategi TP PKK Nganjuk Perkuat Ketahanan Keluarga Melalui Gizi Seimbang dan Stimulasi Motorik

Nganjuk, PING– Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Nganjuk terus digencarkan melalui sinergi lintas sektor. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan JATIM TERBAIK’S (Jawa Timur Tanggap terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting) bertempat di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Kabupaten Nganjuk, Kamis (18/12/2025).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Nganjuk, Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur, Kepala Dinas PPKB Nganjuk, serta para ibu hamil risiko stunting dari lima kecamatan di wilayah setempat. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nganjuk, Sriwahyuni Marhaen, dan Ketua Bidang I TP PKK Kabupaten Nganjuk, dr. Widhi Nastiti Trihandy.

Dalam paparannya, Sri Wahyuni Marhaen menegaskan bahwa periode usia 0–5 tahun adalah masa emas (golden age) yang tidak boleh terlewatkan tanpa penanganan optimal. Ia menekankan bahwa intervensi stunting harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari kesehatan fisik, stimulasi kognitif, hingga aspek sosial-emosional.

Sri Wahyuni mengingatkan para ibu untuk menjauhi pola asuh yang keras dan beralih pada pemberian stimulasi kasih sayang. Ia juga menyoroti penggunaan teknologi yang berlebihan pada balita.

"Ibu adalah sosok sentral dalam memastikan anak lahir sehat. Saya berpesan, tolong batasi penggunaan gawai atau screen time, terutama pada anak di bawah dua tahun, karena dapat menghambat perkembangan otak dan kemampuan sosial mereka. Mari kita bangun rasa aman melalui sentuhan dan pelukan agar karakter anak tumbuh dengan positif," ujar Sri Wahyuni Marhaen di hadapan para peserta.

Senada dengan hal tersebut, dr. Widhi Nastiti Trihandy memberikan tinjauan medis terkait pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ia menjelaskan bahwa 80 persen pertumbuhan otak anak terjadi pada dua tahun pertama, sehingga kekurangan gizi pada fase ini akan berdampak permanen pada masa depan anak.

dr. Widhi juga menyoroti ibu hamil dengan risiko tinggi, terutama mereka yang berusia di atas 35 tahun atau memiliki riwayat anemia. Ia meminta keluarga untuk tidak mengabaikan tanda bahaya kehamilan dan selalu memanfaatkan fasilitas kesehatan resmi.

"Kehamilan di atas usia 35 tahun memerlukan kewaspadaan ekstra. Jangan abai terhadap tanda bahaya seperti pendarahan atau tekanan darah tinggi. Ingat, ASI eksklusif adalah nutrisi terbaik yang tidak tergantikan oleh susu formula mana pun. Kita harus memastikan asupan protein hewani terpenuhi agar organ vital janin berkembang sempurna," tegas dr. Widhi.

Kegiatan JATIM TERBAIK’S ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran para orang tua dan pendamping keluarga di Kota Bayu. Selain pemberian materi edukasi, para peserta juga diajak untuk aktif melakukan pemantauan rutin di Posyandu serta memanfaatkan layanan "Mobil Siaga Desa" jika terjadi kondisi darurat saat persalinan.

Penutupan acara ditandai dengan komitmen bersama bahwa keberhasilan mencetak generasi bebas stunting di Kabupaten Nganjuk sangat bergantung pada pemanfaatan masa emas tumbuh kembang anak secara optimal, terencana, dan bertanggung jawab oleh seluruh anggota keluarga.