Gali Potensi Konten Kreator Muda, MGBK SMP Kabupaten Nganjuk Gelar Lomba Video Pendek Hardiknas
- 22-05-2026
SURABAYA, PING – Pemerintah Kabupaten Nganjuk bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait tingginya risiko kecelakaan dan kemacetan di perlintasan sebidang. Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, didampingi Kepala Dinas Perhubungan Nganjuk Suharo, melakukan audiensi khusus di Ruang Rapat Balai Teknik Perkeretaanopian (BTP) Kelas I Surabaya pada Rabu (11/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Pemkab Nganjuk secara resmi menyodorkan sejumlah usulan strategis kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan untuk membenahi infrastruktur perkeretaapian di wilayah Nganjuk.
Fokus utama yang ditekankan oleh Wabup Trihandy adalah perbaikan di dua titik krusial jalan nasional, yakni JPL 90 (Baron) dan JPL 103 (Bagor). Kondisi jalan yang berlubang serta geometri perlintasan yang tidak tegak lurus dinilai menjadi "ranjau" bagi pengendara, terutama pengendara motor saat musim hujan.

"Kondisi aktualnya jalan berlubang dan perlintasannya tidak tegak lurus. Ini sangat licin dan menyulitkan pesepeda motor. Bahkan pagi sebelum rapat ini, ada truk patah as di lokasi yang memicu kemacetan panjang," tegas Mas Handy sapaan akrabnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab mengusulkan penggunaan teknologi Concrete Level Crossing (perlintasan berbahan beton) menggantikan aspal biasa yang sering rusak akibat beban kendaraan berat. Teknologi ini dianggap lebih stabil dan tahan lama, berkaca pada keberhasilan penerapannya di Merak dan Padang.
Selain masalah teknis jalan, Pemkab Nganjuk juga menyoroti hambatan logistik di JPL 89 (Desa Waung/Baron). Mas Handy meminta agar portal pembatas ketinggian di lokasi tersebut segera dicabut. Alasannya keberadaan portal memicu bottleneck (penyempitan arus) yang memaksa kendaraan besar masuk ke jalan desa, sehingga merusak infrastruktur lokal. Disamping itu, untuk kondisi perlintasan saat ini sudah memiliki penjaga palang pintu yang resmi, sehingga fungsi portal pengaman tambahan dinilai sudah bisa ditiadakan untuk kelancaran akses menuju Kawasan Industri Nganjuk.

Masalah klasik kemacetan di JPL 95 (Sukomoro) juga menjadi agenda pembahasan. Untuk mengatasi antrean kendaraan yang bisa mencapai ratusan meter, Pemkab Nganjuk berkomitmen menganggarkan dana tahun ini guna melebarkan jembatan kecil yang berada di dekat rel.
Di sisi layanan, Mas Handy membawa aspirasi warga terkait kebutuhan transportasi massal yang murah. Ia mendorong agar jangkauan Commuter Line (Kereta Api Lokal) diperluas hingga ke Stasiun Nganjuk.
"Banyak warga Nganjuk yang bekerja di Mojokerto dan Surabaya. Kami berharap layanan kereta lokal ditambah karena mobilitas masyarakat sangat tinggi dan membutuhkan tarif yang terjangkau," pungkasnya.