Sidang Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-1089, Kang Marhaen Kobarkan Semangat DNA Sukses
- 10-04-2026
Nganjuk, PING- Nuansa budaya Mataraman tampak kental dalam Upacara Peringatan Hari Jadi ke-1089 Nganjuk yang berlangsung di Alun-Alun Nganjuk, Jumat (10/04/2026). Sejak pagi hari, suasana sudah dipenuhi warna ungu tua dan hitam dari pakaian adat yang dikenakan peserta, mencerminkan identitas Nganjuk yang lekat dengan sejarah Mataram Kuno.
Tahun ini terasa berbeda karena seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana tradisional. Para pejabat seperti Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda, Kepala OPD, hingga Direktur RSUD Nganjuk dan Kertosono tampil elegan bersama pasangan masing-masing dalam balutan Beskap Mataraman.
Pakaian pria menggunakan atasan (beskap) berwarna hitam dan ungu tua berbahan beludru, dipadukan dengan kain bawahan (jarik) bermotif batik dengan warna dasar ungu tua. Sedangkan para perempuan menggunakan kebaya panjang berwarna ungu tua dengan detail payet, serta kain bawahan (jarik) dengan warna dan motif yang senada (ungu tua) dengan pakaian sang pria.
Sementara itu, para Sekretaris Dinas, Kepala Bagian, dan peserta upacara ASN lainnya mengenakan Batik Anjuk Ladang, lengkap dengan udeng khas bagi pria, menciptakan pemandangan yang serasi dan penuh kebanggaan terhadap budaya lokal.

Upacara dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, bersama Wakil Bupati dan jajaran Forkopimda. Kehadiran Ketua TP PKK, Ketua GOW, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan turut menambah kekhidmatan, sekaligus menunjukkan kontribusi perempuan dalam pembangunan daerah.
Sejumlah tamu undangan dari Bakorwil Bojonegoro, serta perwakilan dari Jombang, Bojonegoro, Kota Madiun, dan Kota Kediri juga hadir untuk memberikan ucapan selamat secara langsung.
Dalam sambutannya, Bupati Marhaen menegaskan bahwa Nganjuk merupakan wilayah istimewa yang berakar dari sejarah besar. Berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang pada 10 April 937 M, daerah ini lahir dari kemenangan Raja Mpu Sindok yang dibantu Mpu Anjuk Ladang dalam menghadapi serangan Sriwijaya.
Ia menekankan bahwa Nganjuk adalah “Tanah Kemenangan” dengan warisan “DNA pemenang” yang telah ada sejak lebih dari satu milenium lalu, tepatnya sejak peristiwa Manusuk Sima di Candi Lor.

“DNA kita adalah DNA pemenang. Nama Anjuk Ladang sendiri bermakna 'Tanah Kemenangan'. Embrio kesuksesan ini sudah dititipkan oleh leluhur kita sejak 1089 tahun yang lalu. Barang siapa yang berjuang dengan hati di Bumi Anjuk Ladang, insyaallah akan menjadi pemenang," tegas bupati Marhaen.
Dengan tema “Harmoni Bumi Anjuk Ladang Melesat dan Sejahtera”, Bupati mengajak seluruh ASN untuk terus beradaptasi menghadapi dinamika global dan perkembangan teknologi. Ia juga mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah, memperbaiki kondisi saat ini, dan menyiapkan masa depan melalui inovasi.
Rangkaian upacara ditutup dengan partisipasi tertib dari berbagai elemen seperti PGRI, PPNI, mahasiswa, dan pelajar SMA, yang mengikuti prosesi hingga selesai dengan penuh rasa bangga.