Bangun Mental Sehat, Psikolog Saraswati Ajak Remaja Berpikir Jernih dan Positif
- 17-04-2026
Nganjuk, PING – Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Kabupaten Nganjuk, dr. Widhi Nastiti Trihandy, memberikan materi dalam Workshop Psikoedukasi Pencegahan Kekerasan pada Remaja yang digelar di SMA Negeri 1 Rejoso, Kamis (16/4/2026).
Dalam paparannya, dr. Widhi menekankan pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi sebagai bagian dari upaya pencegahan kekerasan pada remaja. Ia menyebut bahwa fase remaja merupakan masa transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan.
“Remaja adalah masa peralihan, bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa. Di fase ini banyak perubahan yang terjadi, sehingga penting bagi kalian untuk memahami tubuh dan menjaga diri dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kurangnya edukasi, pergaulan bebas, serta paparan konten digital yang tidak sehat menjadi faktor utama yang dapat memicu terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual di kalangan remaja.
“Kalian hidup di era digital, di mana informasi sangat mudah diakses. Namun tidak semua konten sesuai dengan norma dan nilai yang kita miliki. Di sinilah pentingnya kontrol diri dan pemahaman yang benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Widhi mengingatkan bahwa menjaga kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Remaja perlu memahami batasan diri serta berani mengatakan tidak terhadap hal-hal yang melanggar norma.
“Kalian punya kendali penuh atas tubuh kalian sendiri. Harus berani berkata tidak jika ada tindakan yang membuat tidak nyaman, baik itu sentuhan, ucapan, maupun melalui media digital,” tegasnya.

Ia juga menyoroti fenomena hubungan tidak sehat (toxic relationship) di kalangan remaja yang kerap menjadi awal terjadinya kekerasan. Menurutnya, hubungan yang sehat seharusnya dilandasi rasa saling menghargai, bukan paksaan.
“Kalau seseorang memaksa kalian melakukan sesuatu yang tidak kalian inginkan, itu bukan cinta. Hubungan yang sehat adalah yang saling menghargai dan mendukung masa depan masing-masing,” ungkapnya.
Selain itu, dr. Widhi mengingatkan risiko besar dari perilaku seksual pranikah, termasuk dampak kesehatan, psikologis, hingga sosial seperti putus sekolah dan pernikahan dini.

“Dampaknya sangat panjang, mulai dari gangguan kesehatan, stres psikologis, hingga masa depan pendidikan yang terhenti. Karena itu, penting bagi kalian untuk menjaga diri dan fokus pada masa depan,” jelasnya.
Menutup materinya, ia mengajak para siswa untuk lebih peduli terhadap diri sendiri sebagai investasi masa depan. “Melindungi diri hari ini adalah langkah kecil untuk menjaga masa depan kalian tetap cerah,” pungkasnya.
Melalui materi yang disampaikan, diharapkan para pelajar mampu memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, membangun relasi yang sehat, serta memiliki keberanian untuk mencegah dan melaporkan segala bentuk kekerasan.