#

Bangun Mental Sehat, Psikolog Saraswati Ajak Remaja Berpikir Jernih dan Positif

Nganjuk, PING – Psikolog Klinis Saraswati Eva Yuswikarini, memberikan materi yang interaktif dan reflektif dalam Workshop Psikoedukasi Pencegahan Kekerasan pada Remaja yang di gelar SMA Negeri 1 Rejoso, Kamis (16/4/2026).

Dalam penyampaiannya, Saraswati mengajak para siswa memahami pentingnya kesehatan mental melalui pendekatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan pikiran seperti tubuh yang juga perlu “dikeluarkan isinya” agar tetap sehat.

“Setiap hari kita makan, minum, lalu tubuh mengeluarkan sisa yang tidak dibutuhkan. Pikiran juga begitu. Kalau stres, unek-unek, dan emosi tidak dikeluarkan, maka akan menumpuk dan membuat pikiran menjadi semrawut,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa remaja saat ini sangat rentan mengalami tekanan, baik dari lingkungan pertemanan, keluarga, maupun sekolah. Hal-hal kecil seperti interaksi sosial sehari-hari dapat memengaruhi kondisi psikologis tanpa disadari.

“Kalian setiap hari ‘mengkonsumsi’ stres. Dari teman, guru, bahkan situasi di sekitar. Kalau tidak dikelola, itu akan menumpuk di dalam diri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Saraswati menjelaskan karakteristik psikologis remaja yang mulai mengalami perubahan pola pikir, emosi, serta kebutuhan akan pengakuan sosial. Fenomena seperti FOMO (fear of missing out), flexing, hingga kecanduan digital menjadi tantangan nyata yang dihadapi generasi saat ini.

“Di usia remaja, kebutuhan untuk diterima sangat tinggi. Kalian ingin dianggap setara dengan teman, ingin diakui. Tapi kalau tidak disikapi dengan bijak, ini bisa memicu stres dan perilaku yang tidak sehat,” terangnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir jernih dan mengelola emosi sebagai kunci menjaga kesehatan mental. “Kita harus bisa membedakan mana yang benar dan salah secara jernih. Selain itu, kemampuan mengelola emosi itu penting, karena di usia remaja emosi cenderung tidak stabil,” katanya.

Dalam sesi interaktif, Saraswati turut mengajak siswa mengenali respons diri terhadap stres, seperti kecenderungan melawan (fighting), menghindar (flight), atau diam (freeze). Menurutnya, memahami respons tersebut penting agar remaja dapat mengontrol perilaku dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ia juga menyoroti fenomena pelabelan gangguan mental secara sembarangan di kalangan remaja yang kerap terjadi akibat informasi yang tidak utuh dari media sosial. “Jangan mudah mendiagnosis diri sendiri hanya dari internet. Kondisi psikologis itu harus ditangani oleh profesional, bukan sekadar asumsi,” tegasnya.

Menutup materinya, Saraswati mengajak para siswa untuk mulai membangun kebiasaan positif serta berani mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat.

“Stres yang menumpuk bisa berdampak serius jika tidak dikelola. Maka penting untuk punya lingkungan yang sehat, berani bercerita, dan membiasakan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Melalui pendekatan yang komunikatif dan aplikatif, materi yang disampaikan diharapkan mampu membantu remaja memahami diri mereka secara lebih utuh serta membangun ketahanan mental dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.