#

Pentingnya Kesehatan Mental Anak: RSD Nganjuk Kupas Tuntas Pola Asuh dan Mitigasi Dampak Digital

NGANJUK, PING – Di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, anak-anak masa kini dihadapkan pada tantangan psikologis yang semakin kompleks. Pengaruh gawai, tekanan akademik, hingga dinamika di dalam keluarga kerap memengaruhi kestabilan emosi dan mental mereka. Sayangnya, masalah kesehatan mental pada anak sering kali luput dari perhatian orang tua karena gejalanya yang berbeda dari orang dewasa.

Guna membekali masyarakat dan para orang tua, RSD Kabupaten Nganjuk mengupas tuntas permasalahan ini dalam dialog interaktif Dinamika Pagi di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Rabu, 24 Juni 2026. Dialog dipandu oleh pembawa siaran Etna Laila dengan menghadirkan Psikolog Klinis RSD Kabupaten Nganjuk, Harum Wulansari.

Harum memaparkan bahwa gangguan kesehatan mental pada anak memiliki dampak yang sangat luas, mulai dari memengaruhi kesehatan fisik, menurunkan performa akademik, hingga menghambat perkembangan sosial-emosional anak. Orang tua dan guru dituntut untuk jeli mengenali perubahan mendadak pada perilaku anak.

Beberapa gejala psikologis pada anak yang wajib diwaspadai antara lain:

  • Menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau mendadak menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Enggan atau menolak untuk pergi ke sekolah atau mengaji.
  • Mengeluhkan gejala fisik seperti pusing dan mual secara terus-menerus, padahal hasil pemeriksaan medis menyatakan anak sehat.
  • Mengalami penurunan prestasi atau nilai akademik di sekolah secara tiba-tiba.

"Sumber stres anak bisa bermacam-macam, mulai dari konflik atau perceraian orang tua di rumah, perundungan (bullying) di sekolah, hingga paparan media sosial," jelas Harum yang juga aktif melakukan pendampingan kasus di Dinas Sosial.

Dampak negatif gawai tanpa kontrol orang tua menjadi sorotan tajam dalam dialog ini. Banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak di bawah umur berawal dari perkenalan dengan orang asing melalui media sosial.

Harum menegaskan kekeliruan paradigma orang tua masa kini yang takut memeriksa gawai anak karena alasan menjaga privasi. Menurutnya, dunia digital ibarat jalan raya yang dipenuhi oleh berbagai macam orang dan bahaya.

"Bagi anak yang masih remaja, gawai dan media sosial itu bukan privasi. Privasi anak itu adalah kamar tidur atau kamar mandi. Orang tua memegang tanggung jawab penuh (in charge) atas keselamatan anak di dunia digital. Kita tidak bisa menyaring sepenuhnya, tetapi kita wajib membekali anak agar mampu memilah mana yang baik dan buruk," tegasnya.

RSD Nganjuk juga mengevaluasi kekeliruan pola asuh yang terlalu keras atau sering mengabaikan perasaan anak. Memberikan hukuman fisik atau meremehkan cerita anak (seperti kalimat "gitu aja nangis") hanya akan membuat anak kapok bercerita kepada orang tuanya. Dampaknya, anak akan mencari pelarian dan kenyamanan pada orang asing di luar rumah.

Pola asuh ideal yang disarankan adalah mendengarkan cerita anak terlebih dahulu tanpa menghakimi, merefleksikan emosinya, lalu mengajak anak berdialog mengenai konsekuensi dan opsi solusi dari tindakannya. Harum juga meluruskan anggapan keliru bahwa anak yang kuat adalah anak yang tidak boleh menangis. Anak yang kuat justru anak yang mengenali emosinya, mampu mengolahnya, dan tahu kapan harus meminta bantuan profesional.

Selain faktor psikologis, pemenuhan gizi kronis juga sangat krusial dalam pertumbuhan otak anak. Kondisi stunting akibat kurang gizi tidak hanya memengaruhi fisik yang kerdil, melainkan juga menurunkan kapasitas intelektual (IQ) anak secara permanen.

Masyarakat awam kerap bingung membedakan kenakalan remaja yang wajar dengan gangguan mental serius. Batasan dasarnya adalah tingkat destruktif dan durasinya.

Jika anak menunjukkan emosi berlebihan seperti berteriak-teriak histeris, merusak barang (menggebrak meja, menjebol pintu), melakukan tindakan membahayakan diri sendiri/orang lain, serta berlangsung berminggu-minggu hingga mengganggu aktivitas harian, maka itu tanda bahaya. Orang tua diimbau tidak menunda untuk segera memeriksakan anak ke profesional kesehatan jiwa, baik psikolog klinis maupun psikiater di fasilitas kesehatan terdekat.