Dari Rumah yang Kerap Tergenang Banjir, Kini Hadir Harapan Baru untuk Ibu Sudarsi
- 11-06-2026
Nganjuk, PING – Literasi di era modern tidak lagi sekadar bermakna kemampuan membaca dan menulis gratis. Lebih dari itu, literasi merupakan sebuah kecakapan dalam menyerap informasi, berpikir secara kritis, serta mengaplikasikan pengetahuan tersebut guna menyelesaikan berbagai problematika kehidupan sehari-hari. Sebagai motor penggerak, para relawan literasi hadir di tengah masyarakat untuk menjembatani perubahan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Gerakan perubahan berbasis literasi ini dikupas tuntas melalui program dialog interaktif di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Rabu, 10 Juni 2026. Dialog inspiratif bertajuk "Relawan Literasi: Dari Gerakan Literasi Menuju Gerakan Perubahan" ini menghadirkan dua personil Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Nganjuk, yaitu Yunita Nurmalasari dan Diah Shanti U.
Yunita Nurmalasari menjelaskan bahwa Relima merupakan inisiasi resmi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Melalui sistem seleksi terbuka yang ketat—mulai dari penyaringan berkas esai rencana aksi hingga wawancara daring langsung dengan Perpusnas RI—dipilihlah pegiat literasi yang memiliki rekam jejak minimal lima tahun untuk diterjunkan langsung ke daerah asal mereka.
"Di Kabupaten Nganjuk, saat ini diamanahkan kepada dua orang relawan. Tugas utama kami adalah bertindak sebagai aktivator, katalisator, sekaligus fasilitator gerakan membaca, pendampingan komunitas, serta menginventarisasi bantuan-bantuan literasi pusat agar dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat," papar Diah Shanti.
Meski bergerak dengan target indikator dari Perpusnas, kedua relawan diberikan kebebasan berinovasi menyusun program yang disesuaikan dengan karakteristik sasarannya. Langkah ini diambil melalui bekal analisis data lapangan pasca-mengikuti bimbingan teknis intensif selama empat hari di pusat.
Dalam perjalanannya sejak awal Juni, Relima Nganjuk menemui berbagai fenomena unik di lapangan. Seperti di Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, perpustakaan desa setempat telah memiliki ruangan dan koleksi buku memadai namun masih minim pengunjung, sehingga pihak desa harus berinovasi menjemput anak sekolah dengan kendaraan pribadi. Sebaliknya, di Kelurahan Begadung, keterbatasan ruang baca disiasati secara cerdas dengan meletakkan rak buku di ruang tamu pelayanan publik.
Relima juga mendorong penguatan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Melalui TPBIS, perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak sekadar menjadi tempat meminjam buku, melainkan wadah pelatihan praktis (seperti literasi keuangan, memasak, dan berkreasi) demi peningkatan keterampilan hidup masyarakat.
Guna memperluas daya jangkau, Relima Nganjuk membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi instansi pemerintahan, pihak swasta, TBM, maupun komunitas literasi lokal yang masih pasif. Salah satu agenda terdekat adalah program "Jangkau Sudut Anjuk Ladang" yang akan dilaksanakan berpindah tempat di sebuah kafe wilayah Nganjuk Timur guna merangkul para pegiat literasi yang belum tersentuh di pusat kota. Masyarakat dapat melacak aktivitas mereka di media sosial melalui tagar resmi #RelawanLiterasiNasional atau berkoordinasi langsung lewat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk.
"Slogan kami sederhana: Bergerak bersama, berdampak bersama. Ketika literasi dikerjakan secara gotong royong, maka dampaknya dalam jangka panjang akan melahirkan masyarakat Nganjuk yang bijaksana dalam mengambil keputusan demi masa depan yang berdaya," pungkas tim Relima Nganjuk.