Perkuat Organisasi Perempuan, Pemkab Nganjuk Genjot Sektor Pendidikan dan Kesehatan
- 17-06-2026
Nganjuk, PING- Data pemotongan hewan kurban di Kabupaten Nganjuk Tahun 2026 telah resmi ditutup dan dilaporkan kepada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Data tersebut menjadi catatan resmi sekaligus bahan evaluasi dan pembanding untuk pelaksanaan pemantauan hewan kurban pada tahun-tahun berikutnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Ida Sohibatin, menyampaikan bahwa pendataan pemotongan hewan kurban dilakukan melalui pemantauan di berbagai wilayah Kabupaten Nganjuk. Hasil akhir mencatat total 20.239 ekor hewan kurban yang dipotong pada Iduladha Tahun 2026.
“Per tanggal 10 Juni, pendataan pemotongan hewan kurban sudah kami tutup dan telah dilaporkan kepada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebagai data resmi Tahun 2026. Data ini menjadi bagian penting untuk evaluasi sekaligus pembanding pelaksanaan pemantauan hewan kurban pada tahun berikutnya,” ujar Ida Sohibatin.
Berdasarkan hasil rekapitulasi, jumlah hewan kurban terdiri dari sapi jantan 1.707 ekor, sapi betina tidak produktif 5 ekor, kerbau 4 ekor, kambing 17.059 ekor, dan domba 1.464 ekor. Kambing masih menjadi hewan kurban yang paling dominan dengan kontribusi sekitar 84,3 persen dari total keseluruhan.
Selain pendataan jumlah pemotongan, Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk juga melakukan pengawasan kesehatan hewan melalui pemeriksaan antemortem dan postmortem. Tahun 2026 tercatat sebanyak 102 titik pemeriksaan yang tersebar di 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, drh. Ery Cahyono, menambahkan bahwa pengawasan kesehatan hewan menjadi bagian penting untuk memastikan hewan kurban yang dipotong memenuhi standar kesehatan dan aman dikonsumsi masyarakat.
“Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi hewan sebelum dipotong dan kualitas daging setelah pemotongan. Kami juga ingin memastikan pelaksanaan kurban berjalan dengan baik, sehat, dan sesuai ketentuan,” jelas drh. Ery.
Menurut Ery, sektor peternakan masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian di Kabupaten Nganjuk. Perkembangan usaha peternakan, termasuk tingginya nilai investasi pada komoditas hewan kurban, menunjukkan adanya peluang besar yang dapat dimanfaatkan masyarakat, terutama generasi muda.
“Peternakan masih menjadi bagian penting dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten Nganjuk. Nilai investasi ternak kurban yang terus meningkat menjadi daya tarik bagi peternak milenial untuk mulai mengembangkan usaha peternakan secara lebih serius dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi, nilai transaksi hewan kurban Tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp104,45 miliar. Nilai tersebut berasal dari estimasi transaksi sapi sekitar Rp40,97 miliar, kambing sekitar Rp59,71 miliar, domba sekitar Rp3,66 miliar, dan kerbau sekitar Rp120 juta.
Data pemotongan hewan kurban Tahun 2026 juga menunjukkan tren peningkatan dibandingkan Tahun 2020 yang tercatat sebanyak 12.853 ekor menjadi 20.239 ekor pada Tahun 2026 atau tumbuh sekitar 57,5 persen.
Dispertan Kabupaten Nganjuk berharap data tersebut dapat menjadi dasar penguatan sektor peternakan, peningkatan pelayanan kesehatan hewan, serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha peternakan baru di Kabupaten Nganjuk.