#

Hadapi Era Teknologi, Wabup Nganjuk Ajak Masyarakat Terus Terbuka pada Wawasan Baru

Nganjuk, PING- Gerakan literasi di Kabupaten Nganjuk kembali memperoleh ruang yang lebih luas melalui Festival Literasi Nganjuk yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk di Gedung Wanita pada 15–20 November 2025.

Kegiatan yang berlangsung selama hampir satu pekan ini menghadirkan ratusan peserta dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga perwakilan desa se-Kabupaten Nganjuk. Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, festival ini juga menawarkan ruang kolaborasi dan berbagi pengalaman mengenai strategi serta praktik efektif dalam menumbuhkan budaya membaca di lingkungan sekolah maupun masyarakat desa.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga tahun ini, sebanyak 114 desa di Kabupaten Nganjuk telah memiliki perpustakaan inklusi sebagai pusat kegiatan literasi. Perpustakaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, pusat diskusi, serta wadah pengembangan kreativitas masyarakat lintas usia.

Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, yang hadir dalam acara, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi mendasar dalam membentuk generasi masa depan yang berkualitas. Menurutnya, kebiasaan membaca harus diperkenalkan sejak usia dini, terutama melalui peran keluarga.

“Literasi itu sangat penting, dan kebiasaan membaca harus dibangun sejak usia dini. Anak-anak akan lebih mudah menyerap kebiasaan baik ketika diperkenalkan melalui hal-hal sederhana di rumah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di era perkembangan teknologi yang serba cepat, masyarakat harus terus terbuka terhadap informasi baru. “Belajar tidak pernah selesai. Setiap hari ada wawasan baru, sehingga kita semua harus terus berkembang,” sambungnya.

Festival tahun ini juga menjadi wadah penghargaan bagi desa-desa yang berhasil mengembangkan perpustakaan inklusi secara aktif dan konsisten. Desa Blongko Kecamatan Ngetos berhasil meraih juara pertama, disusul Desa Jatipunggur Kecamatan Lengkong sebagai juara kedua, dan Desa Sukorejo Kecamatan Loceret yang menempati posisi ketiga. Penilaian diberikan berdasarkan inovasi pelayanan, aksesibilitas, program kegiatan, serta dampak perpustakaan terhadap peningkatan minat baca masyarakat.

Dalam sesi dialog interaktif, perwakilan dari Perpustakaan Rumah Belajar Ceria Sukorejo memaparkan berbagai program unggulan, seperti bimbingan belajar gratis untuk siswa, pojok kreativitas anak, dan kerja sama dengan UMKM desa. Program tersebut tidak hanya mendorong peningkatan literasi akademik, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi lokal melalui kegiatan kreatif masyarakat.

Menanggapi paparan tersebut, Wabup Trihandy kembali menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk memperkuat sarana dan prasarana literasi, baik melalui peningkatan fasilitas perpustakaan maupun pengembangan layanan berbasis digital.

“Pemerintah Kabupaten Nganjuk akan terus memperkuat fasilitas dan akses literasi, termasuk sarana perpustakaan dan dukungan digital, agar masyarakat bisa belajar sepanjang hayat,” jelas Mas Handy sapaan akrabnya.

Melalui penyelenggaraan Festival Literasi Nganjuk, pemerintah daerah berharap kolaborasi antara sekolah, desa, komunitas literasi, serta masyarakat dapat semakin solid. Upaya bersama ini diyakini mampu melahirkan generasi yang lebih cerdas, kritis, inovatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan. Festival ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi momentum penting untuk memperluas gerakan literasi yang berdampak nyata bagi perkembangan masyarakat di Kota Bayu.