Jelang Idul Adha, Pemkab Nganjuk Gelar Gerakan Pangan Murah di Rejoso
- 25-05-2026
Nganjuk, PING— Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan kembali dipertegas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk melalui kegiatan Sinergi dan Kolaborasi Tenaga Kesehatan untuk Mewujudkan Pengobatan Rasional dan Pencegahan Interaksi Obat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-61 ini menghadirkan sekitar 100 tenaga kesehatan dari berbagai profesi dan 45 Polindes yang mengikuti secara daring pada Selasa (18/11/2025).
Acara yang berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) Nganjuk ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, dr. Tien Farida Yani. Dalam sambutannya, dr. Tien menekankan bahwa isu penggunaan obat yang tidak tepat saat ini menjadi perhatian serius di berbagai fasilitas kesehatan. Tantangan seperti resistensi antibiotik, penggunaan obat ganda tanpa indikasi jelas, hingga ketidakpatuhan pasien terhadap aturan terapi, dinilainya harus diselesaikan melalui kerja sama yang solid antar tenaga kesehatan.
“Kolaborasi ini sangat penting. Kita ingin semua tenaga kesehatan menjadi pelopor pengobatan rasional dan memastikan pasien mendapatkan terapi yang aman. Ini harus dimulai dari peningkatan pemahaman nakes dan edukasi kepada masyarakat,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa seluruh proses pelayanan di puskesmas dan fasilitas kesehatan harus selalu dievaluasi agar tetap sesuai standar.

Sementara itu, Administrasi Kesehatan Ahli Muda Dinkes Nganjuk, Erik Sulistyorini, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman tenaga kesehatan mengenai konsep penggunaan obat sesuai standar klinis.
Selain itu, kegiatan ini mendorong komitmen bersama dalam mencegah interaksi obat yang berisiko di fasilitas layanan tingkat pertama. Ia berharap para peserta dapat menerapkan materi secara langsung dalam pelayanan sehari-hari.
Sebagai narasumber utama, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Yulistiani, menyajikan materi mengenai prinsip dan indikator penggunaan obat rasional. Ia mengulas fenomena overuse, misuse, dan underuse obat, serta menekankan pentingnya penerapan indikator 13 Tepat 1 Waspada dalam memastikan obat digunakan secara benar, tepat sasaran, dan aman bagi pasien.

Materi kedua disampaikan oleh Yuni Priyandani yang mengupas pola interaksi obat yang sering ditemui dalam praktik layanan dasar. Ia menjelaskan faktor risiko, jenis interaksi yang umum terjadi, serta langkah mitigasi yang harus dilakukan tenaga kesehatan untuk mencegah efek samping yang merugikan.
Di akhir kegiatan, para tenaga kesehatan diajak untuk menyusun tindak lanjut implementasi di masing-masing unit pelayanan. Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk berharap seluruh nakes semakin siap memperkuat penerapan pengobatan rasional serta meningkatkan keamanan pasien di seluruh fasilitas kesehatan.