Siapkan Payung Hukum Pilkades Serentak 2027, DPRD Nganjuk Sahkan Rantus Raperda Desa
- 22-05-2026
Nganjuk, PING – Kerusakan jalan di Kabupaten Nganjuk ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh kualitas aspal atau tingginya volume kendaraan. Faktor pengelolaan air hujan dan rendahnya kesadaran masyarakat turut menjadi penyebab utama yang kerap diabaikan.
Fenomena genangan air di badan jalan saat hujan masih sering ditemukan di berbagai titik di Kota Angin. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga mempercepat kerusakan infrastruktur, mulai dari retakan hingga terbentuknya lubang di permukaan jalan.
Salah satu penyebab utama genangan tersebut adalah tertutupnya bahu jalan yang sejatinya berfungsi sebagai area resapan air. Sejumlah warga diketahui melakukan pengecoran atau pelapisan semen pada bahu jalan di depan rumah dengan tujuan memperindah tampilan atau mempermudah akses kendaraan. Namun, tanpa disadari, tindakan tersebut justru menghambat proses penyerapan air ke dalam tanah.
Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap dan cenderung mengalir ke badan jalan hingga menggenang. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan melemahkan struktur lapisan aspal, mengingat material tersebut tidak dirancang untuk terendam air dalam waktu lama. Dampaknya, jalan menjadi lebih cepat rusak, bahkan pada ruas yang baru saja diperbaiki.
Selain berdampak teknis, penutupan bahu jalan juga berpotensi melanggar ketentuan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
Sebagai langkah solutif, masyarakat yang membutuhkan akses kendaraan ke rumah disarankan menggunakan material yang tetap memungkinkan infiltrasi air, seperti paving block atau grass block. Alternatif lain yang dapat diterapkan adalah penggunaan plat besi atau grill sebagai jembatan kecil tanpa menutup saluran drainase.
Melalui edukasi ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk mengajak seluruh masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur jalan. Kesadaran sederhana, seperti tidak menutup bahu jalan secara permanen, dinilai mampu memberikan dampak besar dalam memperpanjang usia jalan dan meminimalisir potensi kerusakan di masa mendatang.