#

Hadapi El Nino, Pemkab Nganjuk Andalkan Irigasi Sprinkler & Teknologi IoT demi Kesejahteraan Petani

Nganjuk, PING– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk terus mematangkan strategi adaptasi sektor pertanian dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga Oktober 2026.

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa ketahanan sektor pertanian harus dibangun melalui inovasi dan efisiensi, terutama dalam pengelolaan air sebagai faktor utama produksi.

“Pertanian itu sangat bergantung pada air. Maka pengelolaannya tidak bisa lagi sembarangan, harus tepat guna dan berbasis teknologi agar tidak terjadi pemborosan,” tegas Kang Marhaen sapaan akrabnya.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Nganjuk mendorong penerapan sistem irigasi sprinkler di lahan pertanian. Teknologi ini memungkinkan penyiraman tanaman dilakukan secara otomatis dengan pola menyerupai hujan, sehingga air dapat terdistribusi secara merata dan sesuai kebutuhan tanaman.

Kang Marhaen menjelaskan bahwa metode konvensional selama ini kerap menimbulkan genangan yang justru merusak struktur tanah dan tidak efisien dalam penggunaan air.

“Kalau cara lama, air sering menggenang dan itu tidak baik untuk tanah. Dengan sprinkler, air diberikan sesuai kebutuhan tanaman, jadi lebih hemat dan lebih sehat untuk lahan,” ujarnya.

Selain efisiensi air, penggunaan irigasi sprinkler juga terbukti mampu menekan biaya operasional secara signifikan. Dalam satu musim tanam bawang merah, biaya penyiraman secara konvensional bisa mencapai sekitar Rp25 juta per hektare. Sementara dengan sistem sprinkler, biaya tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp5 juta.

“Dari sekitar Rp25 juta bisa ditekan jadi kurang lebih Rp5 juta per hektare. Ini penghematan yang sangat besar bagi petani,” ungkap Kang Marhaen.

Ia menambahkan, efisiensi tersebut berdampak langsung pada peningkatan keuntungan petani karena biaya produksi menjadi lebih rendah, sementara produktivitas tetap terjaga bahkan berpotensi meningkat.

“Petani sekarang kerjanya lebih ringan, waktunya lebih efisien, dan hasilnya bisa lebih maksimal. Jadi bukan hanya hemat biaya, tapi juga meningkatkan pendapatan,” lanjutnya.

Tak berhenti pada mekanisasi, Pemkab Nganjuk juga mengintegrasikan sistem pertanian dengan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT). Melalui sensor dan aplikasi di ponsel, petani dapat memantau kondisi lahan secara real time, mulai dari kebutuhan air hingga jadwal pemupukan.

“Sekarang petani cukup pakai handphone. Mereka bisa tahu kapan harus menyiram, kapan memupuk, semuanya berbasis data. Ini yang membuat pertanian kita naik kelas, lebih modern dan presisi,” jelas Kang Marhaen.

Dengan pendekatan ini, Pemkab Nganjuk optimistis mampu menjaga stabilitas produksi pertanian meskipun menghadapi tekanan iklim ekstrem. Sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, keberlanjutan produksi menjadi prioritas utama.

Lebih jauh, kebijakan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Efisiensi biaya dan optimalisasi hasil panen diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat pedesaan.

“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Tujuan akhirnya jelas, kesejahteraan masyarakat meningkat, bukan hanya sekadar program di atas kertas,” pungkas Kang Marhaen.