#

Edukasi Kesehatan di SMKN 1 Nganjuk: Bekali Remaja Hadapi Masa Pubertas dan Ancaman Kekerasan

Nganjuk, PING Topik seputar kesehatan reproduksi kerap kali masih dianggap tabu atau sensitif untuk diperbincangkan secara terbuka di kalangan pelajar. Padahal, pemahaman yang komprehensif mengenai hal ini merupakan bekal esensial bagi generasi muda untuk melindungi diri sekaligus merancang masa depan yang cerah.

Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) menghadirkan sesi khusus dalam rangkaian "Workshop Psikoedukasi Pencegahan Kekerasan terhadap Remaja Tahun 2026" di Aula SMKN 1 Nganjuk pada Senin (20/4). Sesi inspiratif ini diisi langsung oleh dr. Widhi Nastiti Trihandy, Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Kabupaten Nganjuk, yang mengajak para siswa untuk lebih mawas diri.

Dalam suasana yang hangat dan interaktif, dr. Widhi mengedukasi ratusan siswa mengenai fase krusial pubertas. Beliau memaparkan bahwa masa remaja adalah periode transisi dinamis yang diwarnai oleh berbagai perubahan mulai dari fisik, emosional, hingga sosial. Kebutuhan akan pengakuan, peningkatan kepedulian pada penampilan, serta rasa ingin tahu yang tinggi menjadi karakteristik utama yang wajar di fase ini.

“Remaja perlu memahami tubuhnya sendiri. Dengan pemahaman tersebut, mereka akan tahu bagaimana cara menjaga diri dan menetapkan batasan yang sehat dalam bergaul,” tutur dr. Widhi di hadapan para peserta.

Lebih dari sekadar pemahaman teoritis, edukasi ini juga menyentuh aspek praktis sehari-hari. dr. Widhi membagikan langkah-langkah sederhana menjaga kebersihan organ reproduksi, seperti rutinitas menjaga sanitasi setelah buang air, kedisiplinan mengganti pembalut saat menstruasi, hingga anjuran untuk menghindari pakaian yang terlalu ketat demi alasan kesehatan.

Waspada Jejak Digital dan Bahaya Sexting

Selain kesehatan fisik, sorotan utama dalam materi ini adalah pergeseran ancaman kekerasan yang kini kian marak di ranah digital. dr. Widhi secara khusus memberikan peringatan keras mengenai bahaya fenomena sexting—yaitu aktivitas bertukar konten pribadi atau sensitif melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat.

“Sekali sebuah konten tersebar di internet, jejak digitalnya akan sangat sulit untuk ditarik atau dikendalikan. Karena itu, jangan pernah mengambil risiko dengan membagikan hal-hal yang bersifat sangat pribadi,” tegasnya mengingatkan.

Kecerobohan di ruang digital ini dinilai membawa dampak yang sangat destruktif. Tidak hanya memicu trauma psikologis yang mendalam bagi korban, rentetan konsekuensinya bahkan berpotensi menghancurkan masa depan remaja, termasuk memicu risiko putus sekolah.

Sebagai bentuk perlindungan dan tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Sosial telah menyiagakan layanan pengaduan dan pendampingan khusus bagi remaja yang mengalami atau mengetahui tindak kekerasan. Fasilitas ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang aman bagi masyarakat.

Menutup pemaparannya, dr. Widhi memotivasi para siswa SMKN 1 Nganjuk untuk memusatkan energi pada pendidikan dan pengembangan potensi diri. Beliau juga berpesan agar para remaja mulai memikirkan perencanaan hidup yang matang, termasuk bijak dalam mempertimbangkan usia ideal untuk melangkah ke jenjang pernikahan kelak.

“Menjaga diri hari ini adalah sebuah investasi tak ternilai untuk masa depan. Jangan sampai keputusan sesaat merusak kesempatan dan cita-cita besar di depan mata,” pungkasnya.

Kegiatan psikoedukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang solid untuk membuka ruang diskusi yang lebih sehat, aman, dan terbuka mengenai kesehatan reproduksi di kalangan pelajar Kabupaten Nganjuk.