#

Bercita-cita Jadi Bupati Saja Tidak Cukup, Ini Pesan Gus Kautsar untuk Para Santri di Nganjuk

Nganjuk, PING- Suasana Masjid Nurul Huda di Tanjunganom, Nganjuk, terasa berbeda pada Selasa malam, (28/4.2026). Ribuan jamaah berdatangan duduk berderet rapi, menunggu tausiyah dari Gus Kautsar yang hadir memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk ke-1089. Lantunan sholawat dari Grup REMAS Nurul Huda Tanjunganom mengalun merdu, menghangatkan malam sebelum pengajian dimulai.

Dalam ceramahnya, Gus Kautsar membagikan empat karakter yang seharusnya melekat pada diri setiap santri. Yang pertama adalah kejujuran atau as-sidqu bersikap jujur bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam setiap tindakan sehari-hari. Kedua, as-syukru, yaitu rasa syukur yang tulus atas semua yang telah Allah tetapkan, baik yang terasa menyenangkan maupun yang terasa berat sekalipun.

Karakter ketiga adalah al-haya, rasa malu yang Gus Kautsar gambarkan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai rem kehidupan yang menjaga seseorang agar tidak sembrono, tidak berlaku buruk, dan tidak mengambil apa yang bukan haknya. Terakhir, husnul khuluq, akhlak yang baik, yang ia jabarkan menjadi tiga hal sederhana namun dalam maknanya: tidak menyakiti orang lain, memiliki jiwa dermawan, dan selalu menampilkan wajah yang ramah kepada siapa saja.

Baca Juga : Hujan Tak Surutkan Antusias, Ribuan Warga Nganjuk Ngaji Bareng Gus Kautsar di Hari Jadi ke-1089

Jadi Bupati Itu Hanya Soal Nasib

Di tengah ceramahnya, Gus Kautsar menyampaikan pesan yang langsung disambut senyum dan anggukan para jamaah. Ia mengajak para santri untuk tidak mematok cita-cita terlalu rendah. Bahkan menjadi bupati pun, kata beliau, sejatinya hanyalah soal nasib bukan tujuan tertinggi seorang santri.

"Yang paling tinggi adalah menjadi pribadi yang mubarokan ainama kuntu di mana pun kamu berada, kamu membawa keberkahan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarmu," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa santri tidak boleh memandang rendah dirinya sendiri. Mengutip Imam Ghazali, Gus Kautsar menegaskan bahwa seseorang yang berilmu dan memiliki kualitas diri yang baik tidak perlu merasa kalah sebelum mencoba. Ia mendorong para santri untuk bermimpi besar, namun tetap rendah hati dan tidak lupa dari mana mereka berasal.

Pemimpin Bukan Orang Biasa

Gus Kautsar juga berbicara soal kepemimpinan dengan cara yang lugas dan mengena. Menurutnya, seorang pemimpin tidak bisa disamakan dengan rakyat biasa dalam hal tanggung jawab moral. Ketika pemimpin berbuat salah, kata beliau, dampaknya tidak hanya jatuh pada dirinya sendiri  tetapi menular ke seluruh orang yang berada di bawah kepemimpinannya, dan itu jauh lebih berat timbangannya di hadapan Allah.

Beliau menggambarkan betapa besar pengaruh seorang pemimpin terhadap tatanan masyarakat. Jika pemimpin berlaku adil dan jujur, rakyat pun akan sungkan untuk berbuat curang. Sebaliknya, jika pemimpin sendiri yang melanggar, maka jangan heran jika ketertiban dan keadilan di daerah itu perlahan-lahan ikut runtuh.

Pesan ini terasa pas disampaikan di tengah perayaan hari jadi Nganjuk sebuah pengingat bahwa daerah yang maju bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi soal siapa yang memimpin dan bagaimana ia membawa dirinya di hadapan rakyat.